DEFINISI TAQWA
Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada Sayyidina Ali
bin Abi Thalib k.w. tentang apa itu taqwa. Beliau menjelaskan bahwa taqwa
itu adalah :
1.
Takut (kepada Allah) yang diiringi rasa cinta, bukan takut karena adanya
neraka.
2.
Beramal dengan Alquran yaitu bagaimana Alquran menjadi pedoman dalam kehidupan
sehari-hari seorang manusia.
3.
Redha dengan yang sedikit, ini berkaitan dengan rezeki. Bila mendapat rezeki
yang banyak, siapa pun akan redha tapi bagaimana bila sedikit? Yang perlu disedari
adalah bahawa rezeki tidak semata-mata yang berwujud uang atau materi.
4.
Orang yg menyiapkan diri untuk “perjalanan panjang”, maksudnya adalah hidup
sesudah mati.
Al- Hasan Al-Bashri menyatakan
bahwa taqwa adalah takut dan menghindari apa yang diharamkan Allah, dan
menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah. Taqwa juga bererti kewaspadaan,
menjaga benar-benar perintah dan menjauhi larangan.
Seorang sahabat Rasulullah SAW, Ubay bin Ka’ab pernah
memberikan gambaran yang jelas tentang hakikat taqwa. Pada waktu itu, Umar bin
Khaththab bertanya kepada Ubay tentang apa itu taqwa. Ubay balik bertanya :
“Apakah Anda tidak pernah berjalan di tempat yang penuh duri?” Umar menjawab :
“Ya.” Ubay bertanya lagi : “Lalu Anda berbuat apa?” Umar menjawab: “Saya sangat
hati-hati dan bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duri itu.” Ubay
menimpali : “Itulah (contoh) taqwa.”
Menghadapi duri di jalanan saja sudah takut, apalagi
menghadapi siksaan api neraka di akhirat kelak, seharusnya kita lebih takut
lagi. Permasalahan yang dihadapi biasanya adalah “duri” semacam apakah yang
dihindari oleh orang-orang bertaqwa itu dan sejauh manakah kita mampu untuk
menghindari “duri” itu.
Syekh
Abdul Qadir pernah memberikan nasihat :
”Jadilah
kamu bila bersama Allah tidak berhubungan dengan makhluk dan bila bersama
dengan makhluk tidak bersama nafsu. Siapa saja yang tidak sedemikian rupa, maka
tentu ia akan selalu diliputi syaitan dan segala urusannya melewati batas.”
Seseorang yang bertaqwa akan meninggalkan dosa-dosa, baik
kecil maupun besar. Baginya dosa kecil dan dosa besar adalah sama-sama dosa. Ia
tidak akan memandang remeh dosa-dosa kecil, kerana gunung yang besar tersusun
dari batu-batu yang kecil (kerikil). Dosa yang kecil, jika dilakukan
terus-menerus akan berubah menjadi dosa besar.
Tidak
hanya hal-hal yang menyebabkan dosa saja yang ditinggalkan oleh orang-orang
bertaqwa, hal-hal yang tidak menyebabkan dosa pun, jika itu meragukan, maka
ditinggalkan pula dengan penuh keikhlasan.
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah
menyatakan bahwa orang bertaqwa adalah orang yang telah menjadikan tabir
penjaga antara dirinya dan neraka. Pernyataan ulama besar salaf ini memiliki
kandungan yang lebih spesifik lagi. Orang bertaqwa berarti dia telah mengetahui
hal-hal apa saja yang menyebabkan Allah murka dan menghukumnya di neraka.
Selain itu, ia juga harus mengetahui batasan-batasan (aturan-aturan) Allah yang
diturunkan kepada Rasul-Nya.
Di sinilah peran penting dari perintah Rasul SAW untuk
menuntut ilmu dari mulai lahir hingga liang lahad. Ketaqwaan sangat memerlukan
landasan ilmu yang benar dan lurus, sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Allah SWT sangat mencela kepada orang-orang yang tidak memiliki ilmu
pengetahuan tentang batasan-batasan yang telah disampaikan kepada Rasul-Nya.
Hal ini sejalan pula dengan firman Allah bahwa Alah akan meninggikan
orang-orang berilmu beberapa darjat.
Dalam perjalanan meraih darjat taqwa diperlukan perjuangan
yang sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu, bisikan syaithaniyah yang sangat
halus dan sering membuat manusia terpedaya. Sikap istiqamah dalam memegang
ajaran Allah sangat diperlukan guna menghantarkan kita menuju darjat taqwa.

